Kota tua
Wajah La Rambla (Las Ramblas) adalah Barcelona yang orisinal. Sampai akhir abad ke–19, Barcelona baru terpusat di kota tua, Ciutat Vella, yang meliputi La Rambla, Barri Gotic, La Ribera, dan El Raval. Arsitektur bangunan di Ciutat Vella umumnya berasal dari abad ke–13 hingga ke–15.
Ratusan tahun berlalu. Kini La Rambla menjadi urat nadi Barcelona. Catalan adalah penduduk Barcelona. Mereka lebih bangga menyebut diri sebagai orang Catalan ketimbang bangsa Spanyol. Ini gara–gara pengamalan pahit di bawah diktator Franco asal Madrid (Castellano).
Tak mengherankan bila La Rambla ibarat magnet yang mengundang jutaan pengunjung menyusuri jalan yang namanya berasal dari kata Arab ”ramla” (berarti sungai kering) itu. Nyatanya, sekitar kawasan itu merupakan tempat tinggal kaum imigran dari Asia dan Afrika. Kawasan El Raval, misalnya, menjadi kampung imigran Afrika Utara dan Pakistan. Orang–orang India juga mendominasi toko–toko cenderamata di sepanjang La Rambla.
”La Rambla selalu ramai dikunjungi turis. Kalau berkunjung ke Barcelona, sempatkan ke La Rambla, jangan sampai terlupakan,” kata Miguel, penduduk setempat. Dia memang benar. Rata–rata turis ingin melihat La Rambla pada kesempatan pertama.
”Saya sudah mendengar La Rambla sebelum mendarat di Bandara El Prat. Begitu tiba, pada hari pertama saya langsung ke La Rambla,” kata pemuda asal Jepang usia 25 tahun yang asyik merekam sisi–sisi kawasan itu dengan handycam–nya.
Sudah takdir bila La Rambla menjadi surga pejalan kaki di kota berpenduduk 1,6 juta jiwa itu. Jalan yang membentang dari Plaça Catalunya hingga Patung Columbus itu terbagi dalam lima seksi, yaitu Rambla Canaletes, Rambla del Estudis, Rambla Sant Josep, Rambla Caputxins, dan Rambla Sant Monica.
Plasa Catalunya adalah titik awal La Rambla, ruang publik bertemunya banyak orang, sekadar nongkrong, duduk–duduk, atau memberi makan ribuan merpati. Tamannya dipenuhi bunga aneka warna. Plasa seluas 50.000 meter persegi itu dibangun tahun 1927 oleh arsitek Francesc Nebot.
Lebar areal pedestrian La Rambla kira–kira 20 meter. Di kiri kanan areal pedestrian terdapat jalur kendaraan yang hanya satu lajur. Di bagian sisi jalan terdapat toko, restoran, kafe, hotel, museum, dan pasar. Di areal pedestrian juga ada kios cenderamata, koran dan majalah, tokoh satwa peliharaan, pelukis jalanan, pesulap, dan tukang ramal.
Meski panjangnya cuma dua kilometer, menyusuri La Rambla pasti takkan habis dalam dua jam. Ada sejumlah tempat menarik yang tak mungkin dilewatkan begitu saja. Ada air mancur Canaletes yang sering dijadikan tempat berpesta suporter FC Barcelona. Percaya atau tidak, bila minum air itu katanya bisa membawa pengunjung kembali ke kota itu.
Menyusur terus ke arah laut akan dijumpai pasar tradisional Boqueria yang bersih, lukisan mural Joan Miro, sejumlah museum antara lain Museum Erotika atau Museum Maritim. Tak jauh, masih ada Katedral Barri Gotic yang sedang direnovasi.
Beberapa ratus meter dari pasar Boqueria, jangan lewatkan Gedung Opera Liceu yang berarsitektur neoklasik sejak tahun 1848. Gedung berkapasitas 2.292 kursi ini menyimpan kisah tragis. Dua kali terbakar, yaitu tahun 1861 dan 1994. Tahun 1893 dibom kelompok Santiago Salvador yang mengakibatkan 20 orang tewas. Baru tahun 1999 dibuka lagi dengan penampilan karya Giacomo Puccini.
Di ujung jalan, Patung Columbus (Mirador de Colom) menjulang tinggi. Saya berdiri memandangi patung lelaki yang menunjuk ke arah laut lepas itu. Itulah patung orang Eropa pertama yang menginjakkan kakinya di Benua Amerika pada penghujung abad ke–15.
Mengapa patung orang Genoa itu ada di ujung La Rambla? Ada legenda bahwa sepulang dari Amerika di sekitar kawasan itulah Columbus bertemu Raja Spanyol Ferdinand yang mensponsori perjalanannya itu setelah ditolak Raja Portugal John II. Tetapi itu hanya legenda, para sejarawan meragukannya.